Skip to main content

Posts

Manusia

Semalam, aku terlibat dalam satu percakapan yang kembali menyadarkanku pada pengingat yang belum sempat kutuangkan ke dalam tulisan. Yang kemudian bisa mengantarkanku kepada, People are uniquely broken Dan itu adalah sebuah kalimat yang menamparku dengan sangat keras. Semua kecemasan dan rasa tidak percaya diri yang menyelimuti, semua itu didasari oleh kalimat ini. TETAPI, tidak semua orang memahaminya. Pernahkah kalian berpikir, apa sih masalah yang dihadapi oleh orang-orang yang "kelihatannya" tidak mempunyai masalah? Ada seorang laki-laki yang menjadi dokter karena salah satu orang terkasihnya sudah mendahuluinya. Ada seorang perempuan yang menjadi aktivis karena pernah ada kegelapan masa lalu yang menghantuinya. We're all broken because humans are imperfect Berhenti menyanjung stigma bahwa orang yang tersenyum bukan berarti ia tidak memiliki masalah sama sekali Karena senyum itu penguat :) Jangan beranggapan bahwa apapun yang berhubungan dengan kesehatan mental itu b
Recent posts

Cara Memikat Recruiter di LinkedIn

Halooo, di masa pandemi gini pasti banyak banget kan yang nhyari gimana sih caranya agar tetap berpenghasilan walaupun di rumah aja? Nah, beberapa kalian pasti ada yang nyari lowongan kerja freelance atau remote, iya kaaan? Salah satu platform yang kalian gunakan LinkedIn, tapi kok, kayaknya susah banget yaa buat apply kerja di satu tempat? Akuuu emang belum pernah sih apply tapi keterima, tapi mungkin kamu bisa coba tips dari aku ini : 1. Buat profil semenarik mungkin!   Banyak yang bilang, kalau foto profesional itu bisa bikin kita cepet dapet banyak kerjaan. Eits, nggak juga lhooo. Terkadang, foto semi-profesional (yang penting sopan) juga bisa jadi daya tarik tersendiri kalau angle-nya pas 😉 Terus juga, usahain jujur sejujur-jujurnya dalam penulisan tentang diri kita! Percaya deh, kata-kata "pekerja keras", "disiplin", dan lainnya, kalau nggak dirangkai yang bagus yaa nggak bakalan bisa mencerminkan diri kita Terus juga, usahain semua diisi dalam bahasa Inggris

Aku capek, jadi Perempuan

AKU CAPEK, JADI PEREMPUAN Karya : Ken Utari Aku capek, jadi perempuan Ini itu dikaitkan dengan masa depan Tak bersih menyapu, nanti suami berjanggut katanya Tak pandai masak, nanti suami tak betah katanya Aku capek, jadi perempuan Ini itu dilarang Main bola, seperti lelaki katanya Pakai celana, tak mencerminkan diri katanya Aku capek, jadi perempuan Dituntut harus pandai seisi rumah Mengenai kebersihan, harus bisa segalanya Mengenai ketaatan, harus patuh semuanya Aku capek, jadi perempuan Dinilai remeh dan sebelah mata Dianggap lemah, hanya karena ukuran tubuh tak seperti rata-rata Dianggap ramah, hanya karena selalu menebar senyum kemana-mana Aku capek, jadi perempuan  Pandai sedikit, takut tersaingi Cantik sedikit, dipuja sampai mati Padahal fisik, bisa seenaknya saja diubah nanti Aku capek, jadi perempuan Aku ingin jadi diriku sendiri Tidak terkait emansipasi Ataupun tuntutan hakiki Aku capek, jadi perempuan Tolonglah sebentar saja berempati Bahwa kami, selalu pakai hati

Metode Ikigai

Terkadang kita terjebak dalam kehidupan sehari-hari. Bangun, dan mempersiapkan diri untuk memulai pekerjaan 9-5 kita. Kalau sudah waktunya pulang, biasanya mampir untuk beli kopi dan belanjaan  jadi tidak perlu keluar lagi di akhir pekan. Apakah kamu tidak menyadari apa artinya itu? Kita tidak bisa mengerti apa tujuan dari rutinitas kita sehari-hari. Kecuali, jika kamu menikmatinya tanpa keraguan. Kamu tidak bisa mengejar karir impianmu, atau bahkan rumah impianmu. Kamu hanya berjalan di tempat yang sama setiap hari. Itu sebabnya, kita perlu mendefinisikan ikigai kita, atau tujuan hidup kita. "Ikigai dapat didefinisikan sebagai 'perasaan hidup sekarang, kesadaran individu sebagai motif untuk hidup.'" - Aikihiro Hasegawa, Associate Professor / Universitas Toyo Eiwa Mari setuju untuk tidak setuju. Kebosanan terkadang membunuh kita setiap akhir pekan. Tidak ada uang, tidak ada rencana. Hanya terjebak di rumah. Karena itu lah kamu memerlukan metode ikigai dalam keseharian

Decision

Thou heart has been figured out Yet embrace and loved To someone who had Breathed with bond Thoughtful and remarkable Fearful yet miserable Nonetheless survival of the broken age Flying through the sky,  Buried and wake again Write some words in the note Careful and shivers You are not the choice of life Bojonggede, September 14th, 2020 Ken Utari

Aku dan Renungan

Aku dan Renungan Terbangun aku pada pukul 4 pagi kurang beberapa menit. Setelah mendengar adikku yang ditegur ketus oleh Abi. Karena ia susah sekali dibangunkan untuk menyantap sahur. Aku jengah melihat dirinya bermalas-malasan. Aku bangkit dari rebahku, dan mulai mencaci ia hingga ia pun bangkit dari kemalasannya.  Aku menceramahinya habis-habisan ketika ia sedang makan. Tak peduli bahwa satu, dua titik air mulai menetes di kedua pipinya. Aku menegurnya karena ia tak mampu berprinsip. Setelah itu, aku kembali menuju kasur. Mengetik tulisan ini sembari berpikir, apa bedanya ia denganku? Aku kakaknya, namun tidak bisa memberikan contoh yang baik. "Kalau kamu memang tidak mau, bilang tidak mau. Jangan bilang mau tetapi bermalas-malasan dan menyusahkan orang lain", kataku beberapa menit lalu. Betapa manusia mengindahkan, saat bisa menceramahi seseorang dan berpijak di atas kesalahan kita sendiri. Sementara, yang diceramahi semakin memupuk diri untuk men

Masa-masa Kritis

Hal yang ingin aku lakukan hari ini adalah menumpahkan segala yang ada di benakku ke dalam tulisan.  Entahlah.  Semuanya kacau.  Aku hanya ingin, ingin sekali, kembali pada masa dimana beban pikiranku tidak seberat ini.  Tidak sanggup aku menahan ini semua sendiri..  Lalu, apa yang harus aku lakukan? Aku bingung, sungguh! Tampaknya tidak ada yang bisa mengerti apa yang aku rasakan saat ini.  Ingin sekali aku berjalan menyusuri hutan hingga sampai ke tepi jurang. Aku akan berteriak sekencang-kencangnya disana. Ingin menumpah ruahkan segala kebingungan dan kecemasan yang menghantui pikiranku beberapa bulan belakangan ini. Aku harap setelah itu aku bisa kembali menemukan diriku yang sebenarnya. Karena pada saat ini, aku merasa aku bukanlah aku.  Aku bukanlah seorang Ken Utari yang pernah aku kenal sebelumnya. Memang, setiap orang berubah menjadi seseorang yang baru setiap harinya.  Tetapi kali ini berbeda. Aku seperti bukan aku yang baru. Aku hanya terjebak disini. Aku